Senin, 14 Februari 2011
Sabtu, 05 Februari 2011
" Petruk Ngadek Ratu " Part II
Cerita diawali di tengah hutan Raden Angkawijaya yang diikuti para punakawan Semar,Gareng,Petruk,Bagong dalam perjalanan dari pertapaan saptaarga harus menembus hutan belantara untuk menuju ke Amarta di tengah hutan mereka bertemu rombongan raksasa terjadilah pertarungan yang sengit.
Waspada Sang Gatutkaca mengetahui adiknya yaitu Raden Abimanyu kewalahan menghadapi raksasa melesat menghantam kepala raksasa,satu persatu bergelimpangan raksasa – raksasa dan yang selamat berlari menerobos belantara..
Tak kalah gesitnya Petruk menghatam kanan kiri,banyak raksasa yang lari tunggang langgang diterjang amukan petruk dan saudara-saudaranya.
I. Negara Amarta
Di negara Amarta Prabu Punto Dewa bersama dengan saudara – saudaranya Raden Wekudara,Raden Janaka,Reden Nakula dan Sadewa sedang membicarakan murcanya (hilangnya) pusaka amarta yaitu Jamus kalimasada tak berapa lama datanglah Raja Dwarawati Prabu Sri Batara Kresna.
“ Salam taklim saya yayi Prabu “ Prabu Kresna menghaturkan salam
“ Kanda Prabu silahkan,saya terima salam kanda prabu salam bakti saya haturkan kepada kanda prabu“
“ Terimakasih Dimas saya terima salam bakti yayi prabu, Werkudara...bagamana Dimas keadaan Jodipati ?”
“ Heeemmm baik,Jliteng Kakakku , terlambat datang ke Amarta,apa ada kepentingan di Dwarati ?”
“ Tidak Dimas, hanya saja kakakmu ini harus mengadakan pasowanan dulu dan Dwarawati sepenuhnya kutitpkan Kakang Udawa, Dimas Harjuna juga baik – baik saja kan,serta nakula Sadewa?”
“ Baik Kankang mas,sembah bakti saya haturkan pada kakangmas Kresna “
“ Ya..sama – sama dimas baktimu aku terima”
“ Sembah bakti saya Kakangmas”
“ Ini Nankula Sadewa..ya..ya saya terima bakti kalian..,Dimas Prabu Puntodewa,saya lihat amarta seakan diselimuti awan yang begitu gelap tidak seperti biasanya Dimas.ada apa ini?”
Dengan tertunduk merasa kesedihan yang mendalam sang Prabu Puntodewa seakan tak kuasa untuk menceritakan kejadian di Amarta. Terlihat di mata batin Sang Kresna,Amarta seakan diselimuti awan gelap menggambarkan ada peristiwa besar yang terjadi di Amarta dengan tersenyum kecil Sang Prabu Kresna menghibur raja Amarta.
“ Ya ya..yayi prabu tidak perlu terlalu memikirkan..murcanya jimad kamus kalimasada sebentar lagi pasti akan dapat kita temukan “
“ Haaaaaa Kresna Kakakku,coba di mana sebenarnya kalimasada hilang?”
“ Bima..bima kalau aku tahu ya mestinya akan aku cari dan ku bawa ke sini”
“ Harusnya begitu..kresna kakakku titisan Dewa Wisnu mestinya sudah tahu di mana kalimasada “
“ Walaupun saya titisan Wisnu,bima. Tidak serta merta aku mengetahui apapun, hanya saja tunggu sampai dengan putramu Si Abimanyu datang pasti akan membawa berita yang menggembirakan “
“ Haaaa...Abimanyu sowan ke Saptoargo menghadap Abiyasa Kakekku”
“ Iya..kita tunggu saja kedatangan Abimanyu..apa yang disampaikan Eyang Abiyasa kita laksanakan, semoga jamus Kalimasada bisa timbul lagi "
Angin sepoi – sepoi meniup pepohonan rindang di depan sitinggil kerajaan Amarta pertanda ada kerabat kerajaan akan datang, dari kejauhan tatapan mata para sentana melihat langkah gagah perkasa Raden Abimanyu bersama dengan Raden Gatutkaca serta para punakawan menuju sitinggil Isatana Amarta, sesampainya di sitinggil mereka menghaturkan sembah bakti kepada para tetua Amarta.
“ Sembah bakti ananda, uwak prabu “
“ Sembah baktimu aku terima anakku Abimanyu “
“ Sembah bakti ananda Gatutkaca,uwak prabu”
“ Sembah baktimu aku terima ananda Gatutkaca “
Setelah mereka menghaturkan sembah bakti kepada para tetua Amarta, Raden Abimanyu menyampaikan pesan dari Pandito Sapta Arga yang masih eyangnya para Pandawa yaitu Begawan Abiyoso.
“ Uwak Prabu Puntodewa dan para sesepuh Pandawa,berkenankan ananda Abimanyu menyampaikan pesan Eyang Abiyoso “
“ Iya ananda Abimanyu memang yang ditunggu para Pandawa dan Kanda Prabu Dwarawati adalah pesan dari Sapta Arga,coba lekas sampaikan apa yang diperintahkan Eyang Sapta Arga, Abimanyu “
“ Uwak Prabu,Eyang Sapta Arga bersabda bahwa hilangnya Jamus Kalimasada tidak akan jauh dari keluatga Pandawa,maka uwak prabu...Eyang Sabta Arga memerintahkan Para keluarga Pandawa untuk tapa ramai maksudnya para keluarga Pandawa diharapkan selalu membantu atau menolong orang lain “
Belum sampai selesai Raden Abimanyu menyampaikan pesan dari Sapta Arga, tiba – tiba genderang pertanda ada tamu penting akan menghadap. Dari kejauhan nampaklah Prabu Kurupati bersama dengan patih Sengkuni dan Pandito Durno nampak tergesa-gesa menghadap Prabu Puntodewo. Prabu Kurupati menceritakan apa yang terjadi di Negara Astina,mendengar bahwa Dewi Banowati menjadi tawanan perang Prabu Belgeduwelbeh,Raden Arjuna marah dan hendak melabrak ke negara Astina,kemarahan Raden Janaka diredakan oleh Prabu Puntodewa.
“ Dinda Werkudara, saya perintahkan kamu untuk membereskan masalah ini bersama dengan Dinda Janaka! “
“ Haaaaaa...Hemmmmm Baik..akan aku hajar Prabu Belgeduwelbeh,aku minta pamit,”
" Kanda Prabu Puntodewa dan Kanda Prabu Dwarawati,saya mohon diri "
" Baiklah Yayi,semoga selamat dan berhasil dalam menunaikan tugasmu "
2. Pandawa Takluk
Raden Werkudara dan Raden Janaka diikuti para putra Pandawa menuju Negara Astina,sebelum memasuki perbatasan Amarta dan Astina mereka sudah dihadang oleh Putut Bayu Wara. Terjadilah peeperangan yang sangat ramai...Putut Bayuwara berhadapan dengan Raden Gatutkaca..dari angkasa Raden Gatutkaca melesat menerjang Putut Bayuwara,pukulan dan tendangan Raden Gatutkaca bertubi – tubi mengenai Putut Bayuwara bagaikan burung rajawali menyambar mangsanya.
Mengetahui musuhnya kewalahan Raden Gatutkaca menambah serangannya. Putut Bayuwara terpaksa melarikandiri dari peperangan kemudian ia menghadap Prabu Tongtongsot.
“ Ampunkan Hamba Sang Prabu,Hamba tidak mampu menandingi
putra – putra Pandawa “
“ Ya..tidak masalah..sudah kamu di belakang saja.
Coba aku lawannya Raden Gatotkaca “
“ Sendiko Sinuwun “
“ He Gatotkaca..kalau kamu memang satria yang sakti..ayo lawan Prabu Tongtongsot..”
Prabu Tongtongsot melesat menghadang Raden Gatotkaca,waspada Sang Gatotkaca di hadapannya adalah seorang raja yang bukan sembarang ia melesat terbang ke angkasa. Tapi ketika Raden Gatotkaca hendak menerjang Prabu Tongtongsot di jatuh lemas tak berdaya berulang – ulang ia mencoba menerjang Prabu Tongtongsot ia jatuh tak berdaya. Raden Gatotkaca tak mampu melawan Prabu Tongtongsot maka ia merasa kalah dan menyerah bersama dengan Raden Abimanyu. Melihat Kekalahan putra – putra Pandawa,Raden Werkudara dan Raden Janaka meyusul ke arena peperangan,mereka juga mengalami nasib yang sama Raden Werkudara dan Raden Janaka bisa dikalahkan oleh Prabu Tongtongsot.
Para Pandawa kemudian berkumpul di negara Astina,Prabu Tongtongsot memberikan petuah – petuah kepada mereka. Para Pandawa menyadari bahwa Prabu Tongtongsot adalah Sang Hyang Wenang yang masuk dalam raga Ki Lurah Petruk Kantong Bolong, setelah memberikan petuah dan wahyu Keraton kepada Raden Abimanyu,Sang Hyang Wenang kembali ke Kahyangan.
“ Maafkan Hamba,Gusti Prabu Puntodewo,saya kembalikan jamus Kalimasada kepada Gusti Prabu “
“ Iya..petruk aku terima dan aku mengucapkan terimakasih atas jasa – jasamu kepada Amarta “
“ Petruk..” Prabu Kresna menyela pembicaraan Petruk dan Prabu Puntodewa.
“ Wonten dawuh, Gusti Prabu Batara Kresno “
“ Selama kamu menjadi Prabu Tongtongsot...bendaramu Abimanyu kok diikuti para punakawan lengkap..berarti di Pecuk Pacukilan ada petruk juga ?”
“ Wah ada yang menggunakan kesempatan dalam kesempitan...wah jadi petruk kembar, Gusti prabu saya mohon pamit..”
“ Ya petruk berhati – hatilah “
Petruk berlalu dari pasewakan di Negara Astina,dan para pandawa beserta Prabu Dwarawati meningglkan Negara Astina.
II. Tancep Kayon
Petruk dengan tergesa – gesa kembali ke Pecuk Pacukilan, melihat sekeliling rumah nampak sepi. Terlintas bayangan di belakang rumah Petruk menhapirinya.
“ Weh sopo iki,kurang ajar berani menyamar diriku “
“ Sopo iki ?, aku petruk “
“ Aku yang petruk..kamu jangan macam – macam..weeee kubanting aja orang ini “
Mereka berkelahi petruk sang Tongtongsot mengamuk dibantingnya petruk jelmaan tanpa disadari petruk (Tongtongsot) ketika membanting petruk jelmaan berubah mencadi pethel (kampak) senjata petruk.
“ We..pethel – pethel,terima kasih kamu mau membela juraganmu ini...yah pethel – pethel akan ku bawa pulang kamu, ayooo “
Di negara Amarta telah diserang prajurit – prajurit Astina..Sang Werkudara dengan sigap mengeluarkan ajian sapu angin,para kurawa tunggang langgang tak berdaya. Akhir cerita para Pandawa bersyukur atas kembalinya Jamus Kalimasada dan Raden Abimanyu mendapatkan Wahyu Keraton.
Tancep Kayon
MP3 pagelaran wayang kulit " PETRUK NGADEK RATU" Dalang Ki Kusni seutuhnya
dapat diunduh disini
atau
Jumat, 28 Januari 2011
Pentas Wayang Lakon " Petruk Ngadek Ratu "
PENTAS WAYANG KULIT SEMALAM SUNTUK
LAKON PETRUK NGADEK RATU
DALANG KI KUSNI KESDIK
TGL 15 JANUARI 2011
DI JELOK,WATUGAJAH,GEDANGSARI,GUNUNGKIDUL
DILIPUT OLEH RARACOM STUDIO
Ki Kusni Kesdik Dalang Dari Puluh Watu,Klaten
Cerita dimulai di Negara Hastina,Prabu Duryudana sedang mengadakan pasowanan dihadiri oleh Prabu Baladewo, Adipati Suryo Atmojo, Pandito Durno,dan Patih Sengkuni. Prabu Duryudana merasa sedih karena di alun - alun negara Hastina telah berdiri tegak Sang Putut Bayuwara utusan Prabu Tong Tongsot atau Prabu Bel Keduwel Beh untuk mempersunting prameswari negara Hastina Dewi Banowati.
"Kanda Prabu Baladewa,heeeem rasanya ada saja cobaan yang harus saya terima,Kanda Prabu" Prabu Duryudana membuka keheningan pasowakan,Sang Kakrasana terkejut campur heran dan bertanya " Ada apa Dimas,mengapa dimas begitu bersedih,apakah ada sesuatu yang Dimas Pikirkan?" "Ya Kanda Prabu..ada yang mengganggu pikiran saya,kanda prabu pasti sudah melihat di alun - alun Astina tadi ada kera putih duta Prabu Tong Tongsot dari negeri Loji Tengoro".
" Ya Dimas Prabu,saya tadi melihat kera putih di alun- alun Astina,ada apa dengan kera putih itu Dimas?"
Belum sampai meneruskan pembicaraan bunyi terompet pertanda ada tamu yang masuk ke setingil pasowanan datanglah sang Putut Bayu Wara “ Sembah hamba Prabu Duryudana” Putut Bayu Wara memberikan salam.
“ Baik-baik aku terima sembahmu,heh kera putih coba katakan lagi apa maksud kedatangan kamu di negara astina ini “
“ Hamba datang ke negeri astina ini sebagai duta Prabu Tong Tongsot untuk menghaturkan keingginan sang prabu yang hendak mempersunting prameswari negeri Astina yaitu dewi Banowati,jika Sang Prabu Duryudana berkenan dan meminta syarat harta benda emas dan apapun yang diminta akan dikabulkan oleh Prabu Tontongsot,tapi jika menolak hamba diberi kuasa untuk menaklukan negeri ini “
“ Apa ?” Prabu Baladewa yang dengan seksama mendengarkan pejelasan Putut Bayuwara terkejut dengan menahan amarah “ He..monyet jelek dengarkan baik- baik Dewi Banowati itu adalah prameswari negeri Astina..dan kamu harus tahu kalau masih ada prabu Baladewa tidak akan pernah Prabu Belkeduwelbeh mempersunting Dewi Banowati..pergi dari pisowanan ini!”
“ Prabu Baladewa,saya ke sini mengahadap Prabu Duryudana bukan menghadap Gusti Prabu Baladewa..kalau memang Prabu Baladewa tidak berkenan, Putut Bayuwara diberi kekuasaan menuntaskan masalah ini”
“ oooo begitu baik,heh..Bayuwara kalau kau memang diberi kuasa menuntaskan masalah ini,aku membuat sayembara kalau kamu mampu mengalahkan aku..akan kuberikan Dewi Banowati”
“ Baik...hamba tunggu di alun – alun “ Putut Bayuwara berlalu dari pasowanan menuju ke alun – alun astina.
“ Mohon maaf Dimas,atas kelancangan saya mengambil keputusan”
“ Tidak apa – apa Kanda Prabu Baladewa ,justru saya mengucapkan terimakasih ,saya percaya kepada Kanda Prabu bisa mengatasi Putut Bayuwara”
“ Baiklah,saya mohon diri menuju alun – alun..Dimas Prabu”
“ Berhati-hatilah Kanda Prabu semoga unggul dalam peperangan nanti “
Prabu Baladewa melangkahkan kaki dengan tegap menunju alun – alun,Prabu Duryudana di setinggil merasa was-was dengan kejadian ini “ Paman Patih Sengkuni,saya merasa kwatir maka paman..siapkan para kurawa untuk membantu Kanda Prabu Baladewa,sekaligus bubarkan pasowanan ini Paman!”
“ Hamba Nakmas Prabu,akan saya siapkan para kurawa..hamba mohon diri”
Pasowakan di negara Astina telalah selesai ditandai teropet yang berbunyi panjang diserati suara meriam 3 kali..Sang Prabu Duryudana menuju ke taman kadilenggeng menghapiri Dewi Banowati.
2. Prabu Baladewa Takluk
Di alun – alun Negara Astina dengan gagah Sang Putut Bayuwara menunggu kedatangan Prabu Baladewa. Terlihat dari kejauhan barisan prajurit para Kurawa menuju alun – alun....
“ Ternyata para Kurawa mau mencari mati,yah ku obrak abrik saja barisan para Kurawa” Sang Putut Bayuwara dengan sigap siaga menyambut kedatangan prajurit Astina. Pertama dia berhadapan dengan Raden Aswatama putra Pandita Durna,baru beberapa gebrakan sang Aswatama tidak mampu melawan Putut Bayuwara. Raden Kartamarma datang membantu dengan sigap Putut Bayuwara menangkis serangan – serangan dari Raden Kartamarma. Tak begitu lama tumban juga Raden Kartamarma, melihat kekalahan para kurawa majulah Raden Jayajatra melepaskan ribuan panah yang bertubi – tubi menghujani tubuh Putut Bayuwara,karena kegesitannya sang Putut Bayuwara mampu menghidar,menangkis semua panah yang dilepaskan Raden Jayajatra. Sang Putut Bayuwara semakin mendekat posisi Raden Jayajatra..tak disia-siakan kesempatan yang dipukullah sang Jayajatra..tumbang dan melarikan diri dari peperangan.
Melihat kekalahan keponakan – keponakannya Patih Sengkuni menghadap Prabu Baladewa “ Ampun – ampun ya toblas..kurawa kalau disuruh perang semua tidak bisa pecus musuh monyet jelek saja semua kalah”
“ Siapa yang tidak pecus perang Paman Patih?”
“ Para Kurawa Nak Mas Prabu,heheheeh mereka semua tidak bisa mengalahkan Putut Bayuwara,pokoknya kalau bukan nak mas prabu sendiri yang maju tidak selesai masalah ini”
“ Kurang ajar..Putut Bayuwara bisa mengalahkan para kurawa..baik mundur paman, aku sendiri yang atasi..he..Putut Bayuwara...maju ku nenggala mati kamu!”
Peperangan antara Prabu Baladewa dengan Putut Bayuwara sangat dasyat di alun – alun negara Astina, berbagai aji kesatian semua dikeluarkan.. Prabu Baladewa terkejut saat pukulan Putut Bayuwara mendarat di dadanya.
.”kurang ajar..heh Putut Bayuwara rasakan sejata neggala hancur badamu..!”
melihat situasi yang gawat mengacam nyawanya Putut Bayuwara lari menuju pakuwon (Tempat Peristirahatan sementara) sang Prabu Tontongsot
“ maafkan hamba Gusti Prabu..hamba tidak mampu menghadapi Prabu Baladewa”
“ Putut Bayuwara malu-maluin gue aja..kenapa lari,takut dengan Prabu Bol dowo yo..eh Baladewo iyo”
“ Ampun Gusti Prabu,Prabu Baladewo membawa senjata yang sangat ampuh...saya tidak berani mengahadapinya”
“ya sudah..aku sendiri yang mengahadapi raja Mandura ini,mundurlah jaga pakuwon,OK”
Begitu santainya Prabu Belkeduwel Beh ke gelanggang pertempuran..langsung berhadapan dengan Prabu Baladewo..saat itu Prabu Baladewo belari mengejar Putut Bayuwara...sedangkan para Kurawa dibelakangnya sambil berjaga – jaga.
“ Siapa ini..?orang gila maju perang” bentak Prabu Baladewo saat bertemu dengan Prabu Tongtongsot..
“ Belum tahu dia..heheheheeh, kenalkan aku Prabu Tongtongsot dari Raja Negera Loji Tengoro,Prabu Baladewo”
“ Heh sudah tahu namaku “ tampak heran
“ Tahu aja..sejata yang kau bawa itu nenggala pemberian Batara Brahma ya Kan?
“ Kok Tahu..” Prabu Baladewo nampak terheran - heranan karena ia merasa tidak banyak yang tahu asal – unsul senjatanya. Mengapa ada seorang rajan yang tahu rahasianya.
“ he Prabu Baladewa..ketahuilah kalau senjata sakti itu hanya dapat digunakan saat tertentu..yang pertama nenggala digunakan untuk membunuh Kangsadewa, kedua neggala digunakan untuk membunuh Prabu Gurowongso,dan yang ketiga digunakan besuk kalau berahkirnya perang baratayuda”
“ Prabu Tongtongsot,tidak perlu banyak bicara,kalau kamu mampu menerima senjata Nanggala,Prabu Baladewa lebih baik menyerah takluk pada prabu Tongtongsot."
“Baik...janjimu bisa dipercaya... mana nenggalamu, ini dadaku ”
Prabu Tongtongsot dengan berani menerima hantaman senjata nenggala yang diayunkan bertubi - tubi ke tubuhnya,merasa senjata neggalanya tidak mempan Prabu Baladewa lari meningglkan peperangan,berlari dan berlari tetapi tetap tidak bisa jauh dari arena peperangan. Akhirnya Prabu Baladewa mengaku kalah dan takluk pada Prabu Tongtongsot. Mengetahui Prabu Baladewa takluk, para Kurawa lari tungganglanggan meninggalkan arena peperangan menyelamatkan diri,lalu para tokoh Astina meminta bantuan ke Amarta.
Lanjutnya....tunggu di Petruk Ngadek Ratu Part II
Sabtu, 20 November 2010
R.Surya Atmojo atau Adipati Karno
ADIPATI KARNO
Cerita berawal dari Dewi Kunti mencoba untuk menggunakan ajian pameling saat mandi di sendang,aji pameling yang digunakan itu adalah ajian yang bisa mendatangkan para dewata.Saat itulah Batara Surya terusik dan bergetar hatinya ketika melihat pemandangan yang begitu indah di sendang tempat Dewi Kunti mandi,hati bergetar tak tahan menahan rasa birahi tak sengaja keluarlah air suci yang melesat dan jatuh di tengah sendang tepat Dewi Kunti sedang mandi .Air suci (kama) tak sengaja terminum oleh Dewi Kunti terasa segar seakan - akan ia tidak mau meninggalkan sendang. Senja telah tiba tak terasa Dewi Kunti mandi di sendang sudah setengah hari, bersama biyung emban danyang kesetiaannya pulang menuju negara Mandura. Waktupun berjalan tak terasa hari berganti,minggu berganti,bulan berganti bulan..tanpa disadari oleh Dewi Kunti terjadi perubahan bentuk pada tubuhnya khususnya diperut "Dewi Kunti Hamil" ha?kabar itu meluas di dalam kerajaan sampailah hal itu ke telingan Prabu Kuntibojo.Bagaikan disambar petir,merah padam menahan amarah Prabu Kuntibojo memanggil putrinya " anakku Kunti,jangan memperlakukan aku ramamu,jangan menjadi putri yang hina,jangan membuat aib di kerajaan Mandura" Prabu Kuntibojo dengan geram memarahi Dewi Kunti " maafkan hamba rama prabu,hamba tidak tahu mengapa diri hamba menjadi begini"biyung emban merasa kasihan melihat dewi Kunti yang bersedih selalu dimarahi Prabu Kuntibojo " maaf Gusti Prabu,hamba emban ingin menghaturkan sesuatu gusti prabu"sambil menahan nafas rasa ketakutan "emban,mau apa?membela gustimu..coba apa yang kau ketahui ceritakan!" Prabu Kuntibojo tak sabar ingin tahu cerita biyung emban " maaf gusti,saat hamba mengantar Gusti Dewi mandi di sendang Tirta Wening tempat biasa Gusti Kunti mandi tidak biasanya setengah hari saja Dewi Kunti ingin cepat2 pulang tapi saat itu sudah setengah hari Gusti Dewi hamba ajak pulang tidak mau,Gusti" Prabu Kuntibojo tak sabar menunggu kelanjutan cerita Biyung Emban "lalu bagaimana,cepat katakan!"bentak prabu Kuntibojo."Ampun Gusti..sang Dewi setiap hamba ajak pulang selalu menolak.."Prabu Kuntibojo menghela napas panjang"baik..baiklah Kunti..aku harus gugat ke kahyangan dan minta pertanggungjawaban kakang Guru siapa yang membuat putriku mengandung"
Di Kahyangan Jongringsaloko,Batara Guru mengadakan pertemuan dengan para dewa suroloyo.." Adi Guru..sepertinya kita harus berhati2 karena ada titah ngarjopodo yang sedang marah besar terhadap dewa,Adi Guru" Narada melaporkan keadaan Jonggringsaloko..ketika itu memang ada kekacauan di Jonggringsaloko,Prabu Kuntibojo takterima dengan perubahan keadaan putrinya akhirnya mengamuk di Kahyangan..karena setiap dewa yang ditanya mereka menjawab tidak tahu.." ada apa Kakang Narada,siapa yang berani membuat kerusuhan di Jonggringsaloko,kakang?" Batara Guru bertanya-tanya "baik adi Guru ..yang mengamuk tidak lain adalah Prabu Kuntibojo yang meminta tanggungjawab dewa..sebab putrinya sedang mengandung padahal belum mempunyai suami, Adi Guru " Batara Guru sambil menghela napas " lalu ulah siapa Kakang Narada ? " tersenyum sang Narada " Adi Guru,baiklah saya akan mengatasi masalah ini,Surya " terkejutlah Batara Surya " kamu harus tanggungjwab dengan masalah ini Batara Surya,akui saja kalau bayi yang dikandung Dewi Kunti karena titisan kamu, Batara Surya" sambil sungkem dihadapan Batara Guru,terbata-bata Batara Surya mengakui apa yang telah terjadi di jonggringsaloko karena perbuatannya.
Akhir cerita Batara Wisnu menyabda bahwa Dewi Kunti akan melahirkan anak dari telinga,lahirlah bayi laki - laki dan diberi nama Raden Basukarno..yang artinya anak lahir melalui telinga...atau Suryaatmaja artinya putra sang batara Surya.
Riwayat Singkat
Nama : R.Karno, Basukarno,Surya Atmaja
Istri : Dewi Surtikanti ( Putri Prabu Salya Raja Mandaraka)
Kerajaan : Ngawangga
Senjata : Panah Kunto Wijaya Dhanu
Keris Kyai Jalak
Jumat, 12 November 2010
KAYON DAN PANDAWA
GUNUNGAN / KAYON
Untuk memulai pementasan wayang kulit biasanya diawali dengan memainkan gunungan.Gunungan sering disebut juga kayon. Fungsi dari gunungan atau kayon selain untuk membuka pementasan juga untuk mengambarkan perubahan latar (tempat) yang diceritakan).
PANDAWA LIMA
Raden Puntodewo
Raden Wrekudara
Raden Arjuna
Raden Nakula & Raden Sadewa
Langganan:
Komentar (Atom)


























