Rabu, 15 Juni 2011
Senin, 28 Maret 2011
Gatutkaca Gugur
Kisah Baratayudha " GATUTKACA GUGUR "
Ilustrasi pertama menceritakan Adipati Karno senopati perang keluarga
Ngastina melanggar tata aturan perang saat matahari terbenam semua
pasukan harus di tarik mundur dari Padang Kurusetra, akan tetapi Karna
Basusena justru menuju padang kurusetra dengan membawa ratusan prajurit
yang membawa obor untuk menerangi sang Karna yang akan membidik
Gatutkaca yang berada di Angkasa terkenal dengan Lakon wayang "
Suluhan "
Ilustrasi ke dua dan ketiga , setelah anak panah yaitu kunto wijaya
dhanu dilepaskan mengejar dan mencari keberadaan Raden Gatutkaca sampai
diangkasa dan Kunto Wijaya Dhanu hampir tak mampu meraih sang Raden
Gatutkaca, dikisahkan pamannya Raden Gatutukanca yaitu Kalabendana yang
begitu menyanyangi Gatutkaca masih menunggu di Alam Penantian dan ingin
pergi ke Swargaloka bersama Gatutkaca. Maka melihat kuntowijaya tdhu
yang hampir jatuh diraihnya lalu dilemparkan kembali menuju arah
persembunyian Gatotkaca, akhirnya Raden Gatutkaca terkena panah
kuntowijaya Dhanu dan gugur melayang jatuh ke arah kereta sang Adipati
Karna.
Ilustrasi keempat, tubuh Raden Gatutkaca jatuh menimpa kereta perang Sang Adipati Karna hingga hancur.
Karna Tanding
![]() |
Tetandinganipun Adipati Karna soho Raden Janaka wonten ing tegal Kurusetro,Adipati Karna engkang sampun siaga sigro nglepasaken jemparing boten kentun Raden Permadi ugi sampun siaga lepas sakeng jemparing.
Sang Permadi siaga sak inggileng kreta engkan dipun kusiri (sais) Prabu Kresna,dados mongkok ing penggalih sang Permadi dupi engkang rako pun Prabu Kresna purun dados kusire perang tetandingan lawan Adipati Karno.
Adipati Karno majeng ing payudan kreta den kusire Prabu Salya kapernah morosepuhipun,kanti raos kepakso tali kuda dipun kekang jrantal kreto majeng ing tengahe peperangan..Adipati Karno sigro siaga sampun dipun arahaken wonten jonggonipun sang Permadi mulad prabu salya kendali kuda dipun sigeeg kreto dipun jejak julo kuda catur ponang panah mleset namung nyerepet kengin sakinggile mustoko.
Senopati kekalih anggenyo bodoyudo kados satrio kembar,Permadi sigro ngunus Kyai Pulanggeni boten kentun Raden Suryoantmojo ngunus Kyai Jalak anggenipun bodoyudo dangu tan wonten engkang ketingal kalindih ing yudo..selot dangu Raden suryoatmojo ketingal keseser yudonipun..mulad sang Permadi sigro wrangkakaken Pulanggeni wonten dadanipun Suryoatmojo, gugur adipati Karno
Dwaruci
DEWA RUCI
Saat Reden Brantaseno mencari kayu gung susuhe angin sebagai syarat untuk mendapatkan ilmu wejangan Sastra Jendro Pangruwaten Hiu dari pandito durno,berada di tengah hutan dandoko bertemu dengan raksasa jelmaan batara Indra dan Batara Bayu. Di tengah hutan itu Brataseno bertempur dengan kedua raksasa yang akhirnya mereka kalah dan menjelma menjado batara Indra dan Batara Bayu.
Raden Bratasena betemu dengan Batara Indra dan Bayu. Bratasena diberitahu bahwa kayu gung susuhe angin yang dicari tidak ada dalam hutan semua itu hanya muslihat dari begawan Durna, maka Batara Indra dan Bayu karena sudah bebas dari kutukan memberikan anugrah bagi Brataseno yang telah membebaskannya.
Brataseno kembali ke astina menemui begawan durno dengan sigap begawan durno menlancarkan tipu muslihatnya lagi brataseno disuruh mencari banyu pawirto suci intisari dari air di laut minangkalbu..sesampai di samodra minangkalbu bertemu dengan naga nembur nowo. Terjadi pergulatan pertempuran yang hebat kuku ponconoko raden brataseno berhasil menyobek mulut nembur nowo yang akhirnya tewas..dan menjelma menjadi dewaruci. hebatnya peperangan antara naga neburnawa dan brataseno di langit terlihat banyang bintang meyerupai mereka hingga disebut rasi bintang bimasakti.
Dewaruci mengajarkan berbagai macam ilmu pengertian tentang hidup kepada Bratoseno dan memberikan anugrah berupa pengageman (perangkat busana) serta rambut digelung..dan diberi nama werkudara.
Saat Reden Brantaseno mencari kayu gung susuhe angin sebagai syarat untuk mendapatkan ilmu wejangan Sastra Jendro Pangruwaten Hiu dari pandito durno,berada di tengah hutan dandoko bertemu dengan raksasa jelmaan batara Indra dan Batara Bayu. Di tengah hutan itu Brataseno bertempur dengan kedua raksasa yang akhirnya mereka kalah dan menjelma menjado batara Indra dan Batara Bayu.Raden Bratasena betemu dengan Batara Indra dan Bayu. Bratasena diberitahu bahwa kayu gung susuhe angin yang dicari tidak ada dalam hutan semua itu hanya muslihat dari begawan Durna, maka Batara Indra dan Bayu karena sudah bebas dari kutukan memberikan anugrah bagi Brataseno yang telah membebaskannya.
Brataseno kembali ke astina menemui begawan durno dengan sigap begawan durno menlancarkan tipu muslihatnya lagi brataseno disuruh mencari banyu pawirto suci intisari dari air di laut minangkalbu..sesampai di samodra minangkalbu bertemu dengan naga nembur nowo. Terjadi pergulatan pertempuran yang hebat kuku ponconoko raden brataseno berhasil menyobek mulut nembur nowo yang akhirnya tewas..dan menjelma menjadi dewaruci. hebatnya peperangan antara naga neburnawa dan brataseno di langit terlihat banyang bintang meyerupai mereka hingga disebut rasi bintang bimasakti.
Dewaruci mengajarkan berbagai macam ilmu pengertian tentang hidup kepada Bratoseno dan memberikan anugrah berupa pengageman (perangkat busana) serta rambut digelung..dan diberi nama werkudara.
Senin, 14 Februari 2011
Sabtu, 05 Februari 2011
" Petruk Ngadek Ratu " Part II
Cerita diawali di tengah hutan Raden Angkawijaya yang diikuti para punakawan Semar,Gareng,Petruk,Bagong dalam perjalanan dari pertapaan saptaarga harus menembus hutan belantara untuk menuju ke Amarta di tengah hutan mereka bertemu rombongan raksasa terjadilah pertarungan yang sengit.
Waspada Sang Gatutkaca mengetahui adiknya yaitu Raden Abimanyu kewalahan menghadapi raksasa melesat menghantam kepala raksasa,satu persatu bergelimpangan raksasa – raksasa dan yang selamat berlari menerobos belantara..
Tak kalah gesitnya Petruk menghatam kanan kiri,banyak raksasa yang lari tunggang langgang diterjang amukan petruk dan saudara-saudaranya.
I. Negara Amarta
Di negara Amarta Prabu Punto Dewa bersama dengan saudara – saudaranya Raden Wekudara,Raden Janaka,Reden Nakula dan Sadewa sedang membicarakan murcanya (hilangnya) pusaka amarta yaitu Jamus kalimasada tak berapa lama datanglah Raja Dwarawati Prabu Sri Batara Kresna.
“ Salam taklim saya yayi Prabu “ Prabu Kresna menghaturkan salam
“ Kanda Prabu silahkan,saya terima salam kanda prabu salam bakti saya haturkan kepada kanda prabu“
“ Terimakasih Dimas saya terima salam bakti yayi prabu, Werkudara...bagamana Dimas keadaan Jodipati ?”
“ Heeemmm baik,Jliteng Kakakku , terlambat datang ke Amarta,apa ada kepentingan di Dwarati ?”
“ Tidak Dimas, hanya saja kakakmu ini harus mengadakan pasowanan dulu dan Dwarawati sepenuhnya kutitpkan Kakang Udawa, Dimas Harjuna juga baik – baik saja kan,serta nakula Sadewa?”
“ Baik Kankang mas,sembah bakti saya haturkan pada kakangmas Kresna “
“ Ya..sama – sama dimas baktimu aku terima”
“ Sembah bakti saya Kakangmas”
“ Ini Nankula Sadewa..ya..ya saya terima bakti kalian..,Dimas Prabu Puntodewa,saya lihat amarta seakan diselimuti awan yang begitu gelap tidak seperti biasanya Dimas.ada apa ini?”
Dengan tertunduk merasa kesedihan yang mendalam sang Prabu Puntodewa seakan tak kuasa untuk menceritakan kejadian di Amarta. Terlihat di mata batin Sang Kresna,Amarta seakan diselimuti awan gelap menggambarkan ada peristiwa besar yang terjadi di Amarta dengan tersenyum kecil Sang Prabu Kresna menghibur raja Amarta.
“ Ya ya..yayi prabu tidak perlu terlalu memikirkan..murcanya jimad kamus kalimasada sebentar lagi pasti akan dapat kita temukan “
“ Haaaaaa Kresna Kakakku,coba di mana sebenarnya kalimasada hilang?”
“ Bima..bima kalau aku tahu ya mestinya akan aku cari dan ku bawa ke sini”
“ Harusnya begitu..kresna kakakku titisan Dewa Wisnu mestinya sudah tahu di mana kalimasada “
“ Walaupun saya titisan Wisnu,bima. Tidak serta merta aku mengetahui apapun, hanya saja tunggu sampai dengan putramu Si Abimanyu datang pasti akan membawa berita yang menggembirakan “
“ Haaaa...Abimanyu sowan ke Saptoargo menghadap Abiyasa Kakekku”
“ Iya..kita tunggu saja kedatangan Abimanyu..apa yang disampaikan Eyang Abiyasa kita laksanakan, semoga jamus Kalimasada bisa timbul lagi "
Angin sepoi – sepoi meniup pepohonan rindang di depan sitinggil kerajaan Amarta pertanda ada kerabat kerajaan akan datang, dari kejauhan tatapan mata para sentana melihat langkah gagah perkasa Raden Abimanyu bersama dengan Raden Gatutkaca serta para punakawan menuju sitinggil Isatana Amarta, sesampainya di sitinggil mereka menghaturkan sembah bakti kepada para tetua Amarta.
“ Sembah bakti ananda, uwak prabu “
“ Sembah baktimu aku terima anakku Abimanyu “
“ Sembah bakti ananda Gatutkaca,uwak prabu”
“ Sembah baktimu aku terima ananda Gatutkaca “
Setelah mereka menghaturkan sembah bakti kepada para tetua Amarta, Raden Abimanyu menyampaikan pesan dari Pandito Sapta Arga yang masih eyangnya para Pandawa yaitu Begawan Abiyoso.
“ Uwak Prabu Puntodewa dan para sesepuh Pandawa,berkenankan ananda Abimanyu menyampaikan pesan Eyang Abiyoso “
“ Iya ananda Abimanyu memang yang ditunggu para Pandawa dan Kanda Prabu Dwarawati adalah pesan dari Sapta Arga,coba lekas sampaikan apa yang diperintahkan Eyang Sapta Arga, Abimanyu “
“ Uwak Prabu,Eyang Sapta Arga bersabda bahwa hilangnya Jamus Kalimasada tidak akan jauh dari keluatga Pandawa,maka uwak prabu...Eyang Sabta Arga memerintahkan Para keluarga Pandawa untuk tapa ramai maksudnya para keluarga Pandawa diharapkan selalu membantu atau menolong orang lain “
Belum sampai selesai Raden Abimanyu menyampaikan pesan dari Sapta Arga, tiba – tiba genderang pertanda ada tamu penting akan menghadap. Dari kejauhan nampaklah Prabu Kurupati bersama dengan patih Sengkuni dan Pandito Durno nampak tergesa-gesa menghadap Prabu Puntodewo. Prabu Kurupati menceritakan apa yang terjadi di Negara Astina,mendengar bahwa Dewi Banowati menjadi tawanan perang Prabu Belgeduwelbeh,Raden Arjuna marah dan hendak melabrak ke negara Astina,kemarahan Raden Janaka diredakan oleh Prabu Puntodewa.
“ Dinda Werkudara, saya perintahkan kamu untuk membereskan masalah ini bersama dengan Dinda Janaka! “
“ Haaaaaa...Hemmmmm Baik..akan aku hajar Prabu Belgeduwelbeh,aku minta pamit,”
" Kanda Prabu Puntodewa dan Kanda Prabu Dwarawati,saya mohon diri "
" Baiklah Yayi,semoga selamat dan berhasil dalam menunaikan tugasmu "
2. Pandawa Takluk
Raden Werkudara dan Raden Janaka diikuti para putra Pandawa menuju Negara Astina,sebelum memasuki perbatasan Amarta dan Astina mereka sudah dihadang oleh Putut Bayu Wara. Terjadilah peeperangan yang sangat ramai...Putut Bayuwara berhadapan dengan Raden Gatutkaca..dari angkasa Raden Gatutkaca melesat menerjang Putut Bayuwara,pukulan dan tendangan Raden Gatutkaca bertubi – tubi mengenai Putut Bayuwara bagaikan burung rajawali menyambar mangsanya.
Mengetahui musuhnya kewalahan Raden Gatutkaca menambah serangannya. Putut Bayuwara terpaksa melarikandiri dari peperangan kemudian ia menghadap Prabu Tongtongsot.
“ Ampunkan Hamba Sang Prabu,Hamba tidak mampu menandingi
putra – putra Pandawa “
“ Ya..tidak masalah..sudah kamu di belakang saja.
Coba aku lawannya Raden Gatotkaca “
“ Sendiko Sinuwun “
“ He Gatotkaca..kalau kamu memang satria yang sakti..ayo lawan Prabu Tongtongsot..”
Prabu Tongtongsot melesat menghadang Raden Gatotkaca,waspada Sang Gatotkaca di hadapannya adalah seorang raja yang bukan sembarang ia melesat terbang ke angkasa. Tapi ketika Raden Gatotkaca hendak menerjang Prabu Tongtongsot di jatuh lemas tak berdaya berulang – ulang ia mencoba menerjang Prabu Tongtongsot ia jatuh tak berdaya. Raden Gatotkaca tak mampu melawan Prabu Tongtongsot maka ia merasa kalah dan menyerah bersama dengan Raden Abimanyu. Melihat Kekalahan putra – putra Pandawa,Raden Werkudara dan Raden Janaka meyusul ke arena peperangan,mereka juga mengalami nasib yang sama Raden Werkudara dan Raden Janaka bisa dikalahkan oleh Prabu Tongtongsot.
Para Pandawa kemudian berkumpul di negara Astina,Prabu Tongtongsot memberikan petuah – petuah kepada mereka. Para Pandawa menyadari bahwa Prabu Tongtongsot adalah Sang Hyang Wenang yang masuk dalam raga Ki Lurah Petruk Kantong Bolong, setelah memberikan petuah dan wahyu Keraton kepada Raden Abimanyu,Sang Hyang Wenang kembali ke Kahyangan.
“ Maafkan Hamba,Gusti Prabu Puntodewo,saya kembalikan jamus Kalimasada kepada Gusti Prabu “
“ Iya..petruk aku terima dan aku mengucapkan terimakasih atas jasa – jasamu kepada Amarta “
“ Petruk..” Prabu Kresna menyela pembicaraan Petruk dan Prabu Puntodewa.
“ Wonten dawuh, Gusti Prabu Batara Kresno “
“ Selama kamu menjadi Prabu Tongtongsot...bendaramu Abimanyu kok diikuti para punakawan lengkap..berarti di Pecuk Pacukilan ada petruk juga ?”
“ Wah ada yang menggunakan kesempatan dalam kesempitan...wah jadi petruk kembar, Gusti prabu saya mohon pamit..”
“ Ya petruk berhati – hatilah “
Petruk berlalu dari pasewakan di Negara Astina,dan para pandawa beserta Prabu Dwarawati meningglkan Negara Astina.
II. Tancep Kayon
Petruk dengan tergesa – gesa kembali ke Pecuk Pacukilan, melihat sekeliling rumah nampak sepi. Terlintas bayangan di belakang rumah Petruk menhapirinya.
“ Weh sopo iki,kurang ajar berani menyamar diriku “
“ Sopo iki ?, aku petruk “
“ Aku yang petruk..kamu jangan macam – macam..weeee kubanting aja orang ini “
Mereka berkelahi petruk sang Tongtongsot mengamuk dibantingnya petruk jelmaan tanpa disadari petruk (Tongtongsot) ketika membanting petruk jelmaan berubah mencadi pethel (kampak) senjata petruk.
“ We..pethel – pethel,terima kasih kamu mau membela juraganmu ini...yah pethel – pethel akan ku bawa pulang kamu, ayooo “
Di negara Amarta telah diserang prajurit – prajurit Astina..Sang Werkudara dengan sigap mengeluarkan ajian sapu angin,para kurawa tunggang langgang tak berdaya. Akhir cerita para Pandawa bersyukur atas kembalinya Jamus Kalimasada dan Raden Abimanyu mendapatkan Wahyu Keraton.
Tancep Kayon
MP3 pagelaran wayang kulit " PETRUK NGADEK RATU" Dalang Ki Kusni seutuhnya
dapat diunduh disini
atau
Jumat, 28 Januari 2011
Pentas Wayang Lakon " Petruk Ngadek Ratu "
PENTAS WAYANG KULIT SEMALAM SUNTUK
LAKON PETRUK NGADEK RATU
DALANG KI KUSNI KESDIK
TGL 15 JANUARI 2011
DI JELOK,WATUGAJAH,GEDANGSARI,GUNUNGKIDUL
DILIPUT OLEH RARACOM STUDIO
Ki Kusni Kesdik Dalang Dari Puluh Watu,Klaten
Cerita dimulai di Negara Hastina,Prabu Duryudana sedang mengadakan pasowanan dihadiri oleh Prabu Baladewo, Adipati Suryo Atmojo, Pandito Durno,dan Patih Sengkuni. Prabu Duryudana merasa sedih karena di alun - alun negara Hastina telah berdiri tegak Sang Putut Bayuwara utusan Prabu Tong Tongsot atau Prabu Bel Keduwel Beh untuk mempersunting prameswari negara Hastina Dewi Banowati.
"Kanda Prabu Baladewa,heeeem rasanya ada saja cobaan yang harus saya terima,Kanda Prabu" Prabu Duryudana membuka keheningan pasowakan,Sang Kakrasana terkejut campur heran dan bertanya " Ada apa Dimas,mengapa dimas begitu bersedih,apakah ada sesuatu yang Dimas Pikirkan?" "Ya Kanda Prabu..ada yang mengganggu pikiran saya,kanda prabu pasti sudah melihat di alun - alun Astina tadi ada kera putih duta Prabu Tong Tongsot dari negeri Loji Tengoro".
" Ya Dimas Prabu,saya tadi melihat kera putih di alun- alun Astina,ada apa dengan kera putih itu Dimas?"
Belum sampai meneruskan pembicaraan bunyi terompet pertanda ada tamu yang masuk ke setingil pasowanan datanglah sang Putut Bayu Wara “ Sembah hamba Prabu Duryudana” Putut Bayu Wara memberikan salam.
“ Baik-baik aku terima sembahmu,heh kera putih coba katakan lagi apa maksud kedatangan kamu di negara astina ini “
“ Hamba datang ke negeri astina ini sebagai duta Prabu Tong Tongsot untuk menghaturkan keingginan sang prabu yang hendak mempersunting prameswari negeri Astina yaitu dewi Banowati,jika Sang Prabu Duryudana berkenan dan meminta syarat harta benda emas dan apapun yang diminta akan dikabulkan oleh Prabu Tontongsot,tapi jika menolak hamba diberi kuasa untuk menaklukan negeri ini “
“ Apa ?” Prabu Baladewa yang dengan seksama mendengarkan pejelasan Putut Bayuwara terkejut dengan menahan amarah “ He..monyet jelek dengarkan baik- baik Dewi Banowati itu adalah prameswari negeri Astina..dan kamu harus tahu kalau masih ada prabu Baladewa tidak akan pernah Prabu Belkeduwelbeh mempersunting Dewi Banowati..pergi dari pisowanan ini!”
“ Prabu Baladewa,saya ke sini mengahadap Prabu Duryudana bukan menghadap Gusti Prabu Baladewa..kalau memang Prabu Baladewa tidak berkenan, Putut Bayuwara diberi kekuasaan menuntaskan masalah ini”
“ oooo begitu baik,heh..Bayuwara kalau kau memang diberi kuasa menuntaskan masalah ini,aku membuat sayembara kalau kamu mampu mengalahkan aku..akan kuberikan Dewi Banowati”
“ Baik...hamba tunggu di alun – alun “ Putut Bayuwara berlalu dari pasowanan menuju ke alun – alun astina.
“ Mohon maaf Dimas,atas kelancangan saya mengambil keputusan”
“ Tidak apa – apa Kanda Prabu Baladewa ,justru saya mengucapkan terimakasih ,saya percaya kepada Kanda Prabu bisa mengatasi Putut Bayuwara”
“ Baiklah,saya mohon diri menuju alun – alun..Dimas Prabu”
“ Berhati-hatilah Kanda Prabu semoga unggul dalam peperangan nanti “
Prabu Baladewa melangkahkan kaki dengan tegap menunju alun – alun,Prabu Duryudana di setinggil merasa was-was dengan kejadian ini “ Paman Patih Sengkuni,saya merasa kwatir maka paman..siapkan para kurawa untuk membantu Kanda Prabu Baladewa,sekaligus bubarkan pasowanan ini Paman!”
“ Hamba Nakmas Prabu,akan saya siapkan para kurawa..hamba mohon diri”
Pasowakan di negara Astina telalah selesai ditandai teropet yang berbunyi panjang diserati suara meriam 3 kali..Sang Prabu Duryudana menuju ke taman kadilenggeng menghapiri Dewi Banowati.
2. Prabu Baladewa Takluk
Di alun – alun Negara Astina dengan gagah Sang Putut Bayuwara menunggu kedatangan Prabu Baladewa. Terlihat dari kejauhan barisan prajurit para Kurawa menuju alun – alun....
“ Ternyata para Kurawa mau mencari mati,yah ku obrak abrik saja barisan para Kurawa” Sang Putut Bayuwara dengan sigap siaga menyambut kedatangan prajurit Astina. Pertama dia berhadapan dengan Raden Aswatama putra Pandita Durna,baru beberapa gebrakan sang Aswatama tidak mampu melawan Putut Bayuwara. Raden Kartamarma datang membantu dengan sigap Putut Bayuwara menangkis serangan – serangan dari Raden Kartamarma. Tak begitu lama tumban juga Raden Kartamarma, melihat kekalahan para kurawa majulah Raden Jayajatra melepaskan ribuan panah yang bertubi – tubi menghujani tubuh Putut Bayuwara,karena kegesitannya sang Putut Bayuwara mampu menghidar,menangkis semua panah yang dilepaskan Raden Jayajatra. Sang Putut Bayuwara semakin mendekat posisi Raden Jayajatra..tak disia-siakan kesempatan yang dipukullah sang Jayajatra..tumbang dan melarikan diri dari peperangan.
Melihat kekalahan keponakan – keponakannya Patih Sengkuni menghadap Prabu Baladewa “ Ampun – ampun ya toblas..kurawa kalau disuruh perang semua tidak bisa pecus musuh monyet jelek saja semua kalah”
“ Siapa yang tidak pecus perang Paman Patih?”
“ Para Kurawa Nak Mas Prabu,heheheeh mereka semua tidak bisa mengalahkan Putut Bayuwara,pokoknya kalau bukan nak mas prabu sendiri yang maju tidak selesai masalah ini”
“ Kurang ajar..Putut Bayuwara bisa mengalahkan para kurawa..baik mundur paman, aku sendiri yang atasi..he..Putut Bayuwara...maju ku nenggala mati kamu!”
Peperangan antara Prabu Baladewa dengan Putut Bayuwara sangat dasyat di alun – alun negara Astina, berbagai aji kesatian semua dikeluarkan.. Prabu Baladewa terkejut saat pukulan Putut Bayuwara mendarat di dadanya.
.”kurang ajar..heh Putut Bayuwara rasakan sejata neggala hancur badamu..!”
melihat situasi yang gawat mengacam nyawanya Putut Bayuwara lari menuju pakuwon (Tempat Peristirahatan sementara) sang Prabu Tontongsot
“ maafkan hamba Gusti Prabu..hamba tidak mampu menghadapi Prabu Baladewa”
“ Putut Bayuwara malu-maluin gue aja..kenapa lari,takut dengan Prabu Bol dowo yo..eh Baladewo iyo”
“ Ampun Gusti Prabu,Prabu Baladewo membawa senjata yang sangat ampuh...saya tidak berani mengahadapinya”
“ya sudah..aku sendiri yang mengahadapi raja Mandura ini,mundurlah jaga pakuwon,OK”
Begitu santainya Prabu Belkeduwel Beh ke gelanggang pertempuran..langsung berhadapan dengan Prabu Baladewo..saat itu Prabu Baladewo belari mengejar Putut Bayuwara...sedangkan para Kurawa dibelakangnya sambil berjaga – jaga.
“ Siapa ini..?orang gila maju perang” bentak Prabu Baladewo saat bertemu dengan Prabu Tongtongsot..
“ Belum tahu dia..heheheheeh, kenalkan aku Prabu Tongtongsot dari Raja Negera Loji Tengoro,Prabu Baladewo”
“ Heh sudah tahu namaku “ tampak heran
“ Tahu aja..sejata yang kau bawa itu nenggala pemberian Batara Brahma ya Kan?
“ Kok Tahu..” Prabu Baladewo nampak terheran - heranan karena ia merasa tidak banyak yang tahu asal – unsul senjatanya. Mengapa ada seorang rajan yang tahu rahasianya.
“ he Prabu Baladewa..ketahuilah kalau senjata sakti itu hanya dapat digunakan saat tertentu..yang pertama nenggala digunakan untuk membunuh Kangsadewa, kedua neggala digunakan untuk membunuh Prabu Gurowongso,dan yang ketiga digunakan besuk kalau berahkirnya perang baratayuda”
“ Prabu Tongtongsot,tidak perlu banyak bicara,kalau kamu mampu menerima senjata Nanggala,Prabu Baladewa lebih baik menyerah takluk pada prabu Tongtongsot."
“Baik...janjimu bisa dipercaya... mana nenggalamu, ini dadaku ”
Prabu Tongtongsot dengan berani menerima hantaman senjata nenggala yang diayunkan bertubi - tubi ke tubuhnya,merasa senjata neggalanya tidak mempan Prabu Baladewa lari meningglkan peperangan,berlari dan berlari tetapi tetap tidak bisa jauh dari arena peperangan. Akhirnya Prabu Baladewa mengaku kalah dan takluk pada Prabu Tongtongsot. Mengetahui Prabu Baladewa takluk, para Kurawa lari tungganglanggan meninggalkan arena peperangan menyelamatkan diri,lalu para tokoh Astina meminta bantuan ke Amarta.
Lanjutnya....tunggu di Petruk Ngadek Ratu Part II
Langganan:
Komentar (Atom)






































